Selasa, 15 September 2026
Portal Berita Indonesia Terpercaya
BREAKING NEWS
Selamat datang di Portal Berita LIPUTAN MEDIA - Informasi Terpercaya dan Berimbang Seputar Indonesia. Fokus Liputan Sumatera Selatan: Pembangunan Infrastruktur Musi Rawas dan Lubuklinggau Terus Ditingkatkan. Pantau update perkembangan ekonomi nasional dan stabilitas harga bahan pokok terkini.
SPONSOR / ADVERTISEMENT
Area Banner Iklan 970x90 / 728x90 (Edit melalui Tata Letak > Banner Iklan Header)
berita

SEABAD GONTOR: DARI PONDOK DI PONOROGO, MENJADI WARISAN PENDIDIKAN ISLAM YANG MENEMBUS DUNIA

Gambar Berita
Foto: Dokumentasi LIPUTAN MEDIA / Istimewa

Liputanmedia.My.Id


Ponorogo, 2026
— Satu abad bukan sekadar angka. Bagi Pondok Modern Darussalam Gontor, usia 100 tahun merupakan perjalanan panjang tentang pendidikan, perjuangan, pengabdian, kaderisasi, dan upaya membangun manusia yang memiliki ilmu sekaligus karakter. Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah ketika Gontor memperingati satu abad perjalanan sejak 1926–2026.

Perjalanan tersebut berawal dari sebuah ikhtiar pendidikan yang kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga pesantren yang memiliki pengaruh luas di Indonesia. Dari lingkungan pedesaan di Ponorogo, Jawa Timur, Gontor tumbuh dengan membawa gagasan bahwa pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan orang yang menguasai ilmu agama, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman.

Pendirian Pondok Modern Darussalam Gontor tidak dapat dilepaskan dari tiga tokoh yang kemudian dikenal sebagai Trimurti pendiri, yakni K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Ketiganya meletakkan dasar pendidikan yang kemudian menjadi karakter khas Gontor dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada 20 September 1926, atau bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 H, tonggak berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor ditetapkan. Momentum tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan yang kelak melahirkan ribuan bahkan puluhan ribu alumni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mancanegara.

Yang membuat perjalanan Gontor menarik bukan hanya lamanya usia lembaga tersebut, tetapi kemampuan mempertahankan identitas pendidikan sembari terus merespons perubahan zaman. Dalam satu abad, dunia mengalami perubahan luar biasa: dari era kolonial, kemerdekaan Indonesia, perkembangan teknologi, globalisasi, hingga era digital dan kecerdasan buatan. Di tengah perubahan itu, pesantren dituntut untuk tetap memiliki akar nilai yang kuat.

Gontor kemudian dikenal dengan sistem pendidikan yang menempatkan kehidupan pesantren sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui disiplin, organisasi, kepemimpinan, kegiatan sosial, bahasa, olahraga, keterampilan, dan kehidupan sehari-hari santri.

Salah satu karakter penting yang melekat pada Gontor adalah penekanan terhadap pembentukan kepribadian. Motto “Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, Berpikiran Bebas” menggambarkan orientasi pendidikan yang tidak berhenti pada kemampuan akademik, tetapi juga menyentuh karakter, kesehatan, wawasan, dan kemandirian berpikir.

Konsep tersebut menjadi penting karena tantangan pendidikan modern semakin kompleks. Anak didik tidak hanya menghadapi persoalan bagaimana mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang memiliki integritas, mampu mengambil keputusan, menghargai perbedaan, dan memiliki tanggung jawab sosial.

Dalam perjalanan panjangnya, Gontor juga menempatkan penguasaan bahasa asing sebagai salah satu instrumen penting pendidikan. Bahasa Arab dan bahasa Inggris mendapat perhatian besar dalam kehidupan santri. Penguasaan bahasa tersebut menjadi pintu bagi santri untuk membaca literatur yang lebih luas, berkomunikasi lintas negara, dan memahami perkembangan dunia Islam maupun dunia internasional.

Lebih jauh, pendidikan di Gontor dibangun dengan semangat kemandirian. Santri tidak hanya diarahkan menjadi pencari pekerjaan, tetapi juga dididik agar memiliki kemampuan mengelola kehidupan, berorganisasi, memimpin, bekerja sama, dan mengabdi kepada masyarakat.

Kemandirian tersebut menjadi salah satu warisan penting yang menjelaskan mengapa jaringan alumni Gontor berkembang luas. Alumni tidak hanya hadir di dunia pendidikan, tetapi juga bergerak dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dakwah, pemerintahan, bisnis, akademik, media, sosial, dan berbagai profesi lainnya.

Salah satu keputusan historis yang sangat penting terjadi pada 1958 ketika Trimurti mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat. Langkah tersebut memperkuat gagasan bahwa pondok bukan semata-mata milik keluarga pendiri, melainkan amanah yang harus dikelola untuk kepentingan umat dan keberlanjutan pendidikan.

Konsep wakaf kemudian menjadi bagian penting dalam tata kelola Gontor. Dengan model tersebut, keberlangsungan lembaga tidak semata-mata bergantung kepada figur tertentu. Ada sistem, kelembagaan, kaderisasi, dan mekanisme kepemimpinan yang dipersiapkan untuk memastikan perjalanan pondok dapat terus berlangsung melewati pergantian generasi.

Di sinilah makna satu abad Gontor menjadi lebih dalam. Sebuah lembaga dapat bertahan selama puluhan tahun, tetapi mempertahankan visi dan sistem selama seratus tahun membutuhkan kemampuan membangun tradisi sekaligus melakukan penyesuaian terhadap perkembangan zaman.

Peringatan 100 tahun Gontor sendiri tidak lahir secara tiba-tiba. Persiapannya telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Panitia peringatan dibentuk sejak 2022, sementara sayembara logo 100 tahun dilaksanakan pada Juni 2022 dan menghasilkan ratusan desain dari para peserta sebelum akhirnya dipilih melalui beberapa tahap penilaian.

Logo peringatan satu abad tersebut membawa pesan mengenai perjuangan tanpa kenal lelah dan kontribusi Gontor dalam pembangunan peradaban melalui pendidikan. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa peringatan satu abad tidak dimaksudkan sekadar menjadi seremoni, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan dan memikirkan masa depan.

Rangkaian peringatan kemudian berkembang menjadi berbagai agenda yang melibatkan alumni, santri, keluarga besar pondok, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya. Pada 2026, berbagai kegiatan satu abad Gontor berlangsung dalam suasana syukur sekaligus refleksi atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui.

Momentum seabad juga memperlihatkan kuatnya ikatan alumni Gontor. Berbagai kegiatan reuni dan pertemuan alumni di sejumlah daerah menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah sekaligus mengenang kembali pengalaman selama menjadi santri. Jejaring tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara pondok dan alumninya tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan lingkungan pesantren.

Di era digital, tantangan Gontor tentu berbeda dengan tantangan yang dihadapi para pendirinya satu abad lalu. Generasi muda sekarang hidup di tengah arus informasi yang hampir tidak terbatas. Media sosial, teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, dan globalisasi membawa peluang sekaligus risiko baru bagi dunia pendidikan.

Karena itu, pertanyaan penting setelah seabad Gontor bukan hanya “apa yang telah dicapai?”, tetapi juga “ke mana pendidikan Gontor akan diarahkan?”. Tantangan berikutnya adalah memastikan nilai-nilai dasar pendidikan tetap kuat ketika metode pembelajaran, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan karakter generasi muda terus berubah.

Gontor memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan tersebut, yaitu tradisi pendidikan, sistem kaderisasi, jaringan alumni, pengalaman kelembagaan, serta fondasi nilai yang telah dibangun selama puluhan tahun. Namun, modal tersebut tetap membutuhkan pembaruan agar tidak berhenti sebagai warisan sejarah.

Dalam konteks Indonesia, perjalanan satu abad Gontor juga menjadi bagian dari perjalanan panjang pesantren dalam membangun sumber daya manusia. Pesantren tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga sebagai lembaga yang mampu berkontribusi terhadap pendidikan nasional, pembangunan masyarakat, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan sosial.

Peringatan satu abad akhirnya menjadi ruang untuk membaca kembali arti pendidikan. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan proses membentuk manusia. Ketika ilmu dipadukan dengan akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan memimpin, pendidikan memiliki kekuatan untuk menghasilkan perubahan yang lebih luas.

Seratus tahun Gontor juga memberikan pelajaran bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang megah atau jumlah peserta didik, tetapi oleh seberapa kuat nilai dan sistemnya mampu diwariskan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, kesinambungan itulah yang membuat sebuah lembaga pendidikan dapat bertahan menghadapi perubahan sejarah.

Kini, setelah melewati 100 tahun perjalanan, Gontor memasuki babak baru. Seabad bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk perjalanan berikutnya. Tantangan masa depan akan semakin kompleks, tetapi warisan perjuangan para pendiri menjadi modal moral untuk terus bergerak.

Gontor 1926–2026 pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah pondok di Ponorogo. Ia merupakan kisah tentang bagaimana sebuah gagasan pendidikan dapat tumbuh, bertahan, berkembang, dan melahirkan jaringan manusia yang membawa nilai-nilainya ke berbagai tempat. Seabad Gontor menjadi pengingat bahwa membangun manusia membutuhkan waktu panjang, kesabaran, sistem, keteladanan, dan kesinambungan.

Karena itu, makna terbesar peringatan 100 tahun Gontor bukan terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada pertanyaan tentang warisan apa yang akan diberikan kepada generasi berikutnya. Jika satu abad pertama merupakan perjalanan membangun fondasi, maka abad berikutnya adalah tantangan untuk memperluas manfaat pendidikan, memperkuat kontribusi kepada umat dan bangsa, serta memastikan nilai-nilai kebaikan tetap relevan di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.

Seabad Gontor adalah perjalanan dari masa lalu menuju masa depan—sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa pendidikan yang dibangun dengan nilai, disiplin, pengabdian, dan visi panjang dapat melampaui usia para pendirinya dan terus hidup melalui generasi yang datang sesudahnya.

Komentar Pembaca (0)

Komentar

Link berita berhasil disalin ke clipboard!